Bulan pertama, kas kantin kejujuran selisih belasan ribu rupiah. Bulan ketiga, selisihnya nol. Ini cerita tentang apa yang terjadi di antaranya.
Ketika kantin kejujuran pertama kali dibuka di [Nama Sekolah], [Nama Guru], wali kelas 5, sebenarnya ragu. Kantin itu tidak dijaga siapa pun. Anak-anak mengambil sendiri, membayar sendiri, mengambil kembalian sendiri. "Saya sudah siap kalau uangnya hilang," katanya.
Bulan pertama, kas memang selisih. Belasan ribu rupiah. Tim kami tidak menutupinya. Angka itu ditulis di papan pengumuman kantin, lengkap dengan kalimat: "Bulan ini kas kita kurang. Tidak apa-apa, kita belajar bersama."
Yang terjadi kemudian tidak kami rencanakan. Anak-anak kelas 6 mengadakan rapat sendiri. Mereka membuat jadwal "pengingat", bukan penjaga, yang berdiri di dekat kantin saat jam istirahat. Tugasnya hanya satu: tersenyum dan berkata "Jangan lupa bayar, ya."
Bulan ketiga, selisih kas nol rupiah. [Nama Guru] kini yang paling semangat mempresentasikan kantin kejujuran ke sekolah tetangga. Kami menuliskan cerita ini bukan untuk mengklaim keberhasilan, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri bahwa karakter tumbuh ketika anak-anak dipercaya.