[Nama Pemuda], 24 tahun, memulai dengan modal awal dan lima ibu tetangganya. Kini omzetnya belasan juta sebulan dan modal awal sudah kembali ke dana bergulir.
[Nama Pemuda] bergabung dengan inkubator angkatan kedua pada awal 2025. Idenya sederhana: singkong di [Nama Desa] melimpah dan murah, tetapi tidak ada yang mengolahnya. Ia mengajak lima ibu tetangganya untuk membuat keripik.
Enam bulan pertama tidak mulus. Kemasan pertama bocor, rasa belum konsisten, dan pembukuan berantakan. Mentor kami datang setiap dua pekan bukan untuk memberi jawaban, tetapi untuk bertanya: "Apa yang kamu pelajari pekan ini?"
Tahun ini keripik singkong [Nama Desa] masuk ke tiga minimarket di kota kabupaten. Modal awal sudah dikembalikan penuh ke dana bergulir dan kini dipakai oleh angkatan kelima.
Lima ibu yang bekerja di rumah produksi masing-masing membawa pulang penghasilan tetap setiap bulan. Sepuluh persen keuntungan disisihkan untuk kas posyandu desa. Semua itu tercatat dan bisa dilihat di laporan program kami.