Semua cerita

Penerima Beasiswa yang Kini Mengajar Adik Kelasnya

  • Tim Program Pendidikan
  • 14 Agustus 2026
  • Nusa Tenggara Barat
  • 3 menit baca

[Nama Siswa] hampir putus sekolah di kelas 8. Tiga tahun kemudian, ia mengelola kelas belajar sore untuk 22 anak di dusunnya.

[Nama Siswa] masuk program beasiswa pada 2024 lewat rekomendasi gurunya. Nilainya tidak istimewa. Yang istimewa, menurut sang guru, adalah ia tidak pernah absen meski harus berjalan 40 menit ke sekolah setiap pagi.

Syarat beasiswa kami sederhana tetapi tidak ringan: setiap penerima mengajar adik kelasnya minimal dua jam setiap pekan. [Nama Siswa] memilih mengajar membaca untuk anak-anak kelas 1 dan 2 di dusunnya.

Dua jam itu kini menjadi kelas belajar sore yang rutin diikuti 22 anak. Orang tua bergantian menyediakan tempat. [Nama Siswa], yang kini duduk di kelas 11, mengelolanya bersama dua penerima beasiswa lain.

"Dulu saya yang ditolong. Sekarang saya bisa menolong. Rasanya berbeda," katanya ketika kami berkunjung Juli lalu. Kami tidak menambahkan apa pun pada kalimat itu.

Bagikan cerita ini